Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts
Showing posts with label ARTIKEL. Show all posts

Sunday, September 10, 2017

BESI APA INI? KOK TAK BERKARAT


 Besi ini menurut pemiliknya tak pernah berkarat. Besi ini diletakkan dibawah terik mentari dan guyuran hujan selama bertahun-tahun. Akan tetapi Besi ini tak pernah berkarat sedikitpun.

Menurut pantauan penulis, besi ini merupakan besi yang dimiliki oleh panglima Perang Pidie pada masa penjajahan Belanda.



Friday, September 8, 2017

GUCI KERAMAT PANGLIMA PERANG PIDIE DITEMUKAN

Guci eninggalan masa Belanda

Ini penemuan terbaru yang dilakukan oleh Hendra Darmawan Waido di Desa Kumbang Waido Kecamatan peukan Baro Kabupaten Pidie. Guci ini menurut penyimpannya memiliki khasiat yang sangat luar biasa. Menurut Cerita dari salah seorang keturunan Teungku Hasan Bin Teungku Husein guci ini dipakai untuk mengobati mata orang sakit pada zaman dulunya. Air yang ada di dalam guci ini digunakan untuk mencuci mata orang sakit. Air dalam guci ini mampu mengobati mata yang sedang sakit.

Karakter Guci

Guci ini memiliki warna yang sangat unik sekali, penulis melihat guci ini memiliki warna keemasan mengkilat yang tidak mudah luntur. Guci ini sangat licin dan merupakan satu-satunya guci yang terunik yang pernah saya lihat.

Volume Guci ini kira-kira 15 liter air dan memiliki sifat pendingin alami yang dalam guci ini. Air yang disimpan di dalam guci ini tidak berbau dan tahan lama. Guci ini merupakan salah satu guci yang terindah dengan karakteristik ukiran yang unik.

Guci ini memiliki 4 hidung guci yang berada di atas guci, guci ini juga masih utuh dan tidak lecet sedikitpun. Ini merupakan guci peninggalan panglima perang pidie di masa lampau.


Guci Keramat

Namun dalam hal ini penulis ingin menggali terus peninggalan-peninggalan sejarah yang sangat fenomenal ini. Guci ini membuktikan bahwa banyak sekali orang-orang yang memiliki andil besar terhadap bangsa yang berasal dari desa Kumbang Waido ini. Desa Kumbang Waido menurut dugaan penulis akan menjadi satu-satunya desa yang memiliki nilai wisata daerah di Kabupaten Pidie. 


Dalam hal ini harapan penulis untuk lebih peka terhadap penemuan ini dan menjadikan Gampong Kumbang Waido sebagai wilayah wisata sejarah di Kabupaten pidie. Akan lebih banyak lagi peninggalan-peniggalan sejarah yang akan penulis paparkan lewat blog ini agar masyarakat tahu bahwa Gampong Kumbang Waido merupakan satu Gampong peninggalan para panglima perang pidie di Kabupaten pidie

Wallahu Alam bisshawab.

Tuesday, September 5, 2017

MISTERI CAP GEULANTEU DAN HAK PETO RAJA PIDIE

MISTERI CAP GEULANTEU DAN HAK PETO RAJA PIDIE
Cap Geulanteu merupakan sebuah cap yang ada pada tangan Raja Iskandar Muda. Cap Geulanteu ini merupakan Cap yang digunakan untuk sebuah ultimatum dalam penyerangan ke daerah lain. Apabila sebuah maklumat telah dibubuhkan dengan Cap Geulanteu maka Maklumat tersebut wajib dilaksanakan oleh rakyat Aceh pada masa itu.

Sebelum memutuskan suatu perkara raja Iskandar Muda memanggil semua kerajaan yang berada di bawah naungan Aceh Darussalam untuk mengadakan rapat senat terbuka. Namun Raja Sultan Iskandar Muda tidak serta merta menstempelkan cap Geulanteu pada kesepakatannya. Cap Geulanteu baru disematkan apabila mendapat persetujuan khusus dari raja Pidie. Raja diberikan hak Feto pada rapat yang diadakan oleh raja iskandar muda.






Monday, September 4, 2017

APA RAHASIA LELAKI PIDIE HINGGA KUAT LAHIR BATIN??


APA RAHASIA LELAKI PIDIE HINGGA KUAT LAHIR BATIN??

Dalam penulisan ini penulis ingin membongkar sedikit rahasia mengapa kebanyakan lelaki Pidie kuat lahir batin secara alami dan herbal. Penulis ingin berbagi sedikit pelajaran serta pengajaran yang berharga hingga para lelaki kuat hingga lahir batin. Hal ini saya ketahui ketika sedang nongkrong di warung kopi dan bercerita banyak tentang makanan khas pidie yang sangat disukai oleh masyarakat.

Dari hasil peh canang atau disebut Peh tem tersebut penulis mengambil banyak manfaat dari hasil peh canang tersebut.  Karena peh canang tidak ada temanya bahkan temanya sangat amburadul. Penulis hanya dapat menulis sebuah tema yang dihasilkan yaitu Kekuatan Lahir Batin Orang Pidie berasal? Dan tema tersebut bukanlah tema yang asal asalan. Tema tersebut ada referensinya loh,, yaitu Kitab Tajul Muluk,, wah,, rupanya ada pak teungku di warung kopi itu..

Apa Rahasia nya??

Rahasianya adalah ileih. Ileih merupakan satu jenis ikan yang sangat lezat dan sangat nikmat bila dirasakan oleh masyarakat. Ileih memiliki cita rasa tersendiri dalam menu makanan Pidie. Bila masyarakat sudah makan ileih, maka masyarakat akan bersemangat dalam bekerja bahkan mengeluarkan semangat yang sangat luar dari biasanya. Sehigga menghasilkan tenaga lahir yang sangat luar biasa.

Namun untuk tenaga bathinnya dari mana?



Rahasianya adalah Kepala Ileih. Bagaimana Caranya Ya???

Kepala ileih dipotong dan dibersihkan dengan air sehingga benar-benar bersih. Kemudian Kepala Belut dibakar dengan api kayu yang bahan bakarnya adalah kayu atau arang. Kepala belut dibakar hingga menjadi hitam dan menjadi arang sehingga mudah dihancurkan.
Setelah ditumbuk hingga halus kemudian kepala belut yang menjadi telah bubuk dicampurkan dengan minyak kelapa. Dan Kemudian disimpan dalam wadah tertutup sehari semalam. Nah, Minyak belut sudah bias dipakai pada tempat yang diperlukan.
Inilah rahasia kenapa lelaki Pidie kuat lahir dan batin…..

Wednesday, August 30, 2017

MISTERI JATUHNYA BINTANG DI PIDIE

Sungai Bintang (Lueng Bintang)
Misteri jatuhnya bintang di Pidie merupakan suatu fenomena yang sampai saat ini menjadi tanda tanya kita semua. Misteri jatuhnya Bintang di Pidie telah diabadikan pada sebuah sungai yang bernama Lueng Bintang (Sungai Bintang). Lueng Bintang ini pucuknya berada di Keumala Kabupaten Pidie. Lueng Bintang memberikan manfaat yang sangat luar biasa kepada masyarakat di Kabupaten Pidie. Sungai ini membentang dari Keumala hingga ke Kecamatan Simpang Tiga Kabupaten Pidie.

Sejarah Lueng Bintang


Penulis mendengar dari kabar-kabar orang yang mengisahkan awal munculnya Sungai Bintang (Lueng Bintang) di Kabupaten Pidie pada masa hidupnya Teungku Abdussalam Bin Teungku Burhanuddin atau di kenal dengan sebutan Teungku Syiek Di Pasi. Walaupun bukan menjabat sebagai seorang raja atu sebagai panglima, beliau sangat berkonstribusi dalam pembangunan Pidie pada masanya di Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya Islam. Sungai Bintang (Lueng Bintang) merupakan bukti nyata dan saksi bisu yang membuktikan Teungku Syiek Di pasi sebagai seorang Pembangun Pidie pada masanya.

Kisah awalnya ketika selesai Sang Teungku Syiek di pasi bertapa (beribadah menurut Agama Islam) di sebuah Gua yang ada di pegunungan Halimun, beliau bertanya kepada rekannya yaitu Teungku Chik Di Reubei dan Teungku Syiek Di Trong Campli. Teungku Syiek Di pasi bertanya kepada Rekannya: Apa oleh-oleh yang akan kita berikan kepada orang Kampung Kita kalau kita turun dari pertapaan atau Khalued ini (dalam Bahasa Aceh)?. Kedua rekannya menjawab: Kita akan membawa pulang emas dan memberikan emas kepada orang Kampung kita, di sini kan banyak emas (tempat khaluet memang banyak emas). Hal itu terbukti pada masa sekarang bahwa pegunungan Halimun memiliki sangat banyak emas dan menjadi bahan pembicaraan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pidie. Kemudian mereka berembug dan bermusyawarah untuk mengambil sebuah keputusan tentang oleh-oleh yang akan diberikan kepada orang-orang Kampung ketika turun dari Khaluet di Gunung Halimun.

Setelah bermusyawarah timbullah sebuah keputusan di antara mereka, kesimpulannya adalah memberikan kado yang lebih baik dan lebih mahal harganya dari pada emas yang ada dari pegunungan itu yaitu sungai yang di dalamnya mengalir air yang sangat subur untuk pertanian dan perkebunan.

Maka berawal dari keputusan itulah Teungku Syiek Di Pasi menggariskan tongkatnya pada tanah sembari ia pulang ke kampung halamannya yaitu Gampong Waido. Nah, dari tanah yang telah digariskan oleh Teungku Syiek Di Pasi mengalirlah air dari Keumala hingga Gampong Waido. Dulunya menurut cerita, sungai tersebut sangat kecil dan kemudian Gajah menggilas aliran sungai tersebut hingga sungainya menjadi besar. Dan sungai ini menjadi sumber kehidupan beberapa Kecamatan di Kabupaten Pidie. pada saat itu sungai tersebut belum ada namanya. Nama sungai tersebut pada waktu itu adalah sungai Teungku (wallahu alam bisshawab)

Foto Gampong Waido

Kronologis Jatuhnya Bintang di Kabupaten Pidie !!!!


Kronologis jatuhnya bintang di pidie pada ketika Teungku Syiek di Pasi keluar dari tempat ibadahnya yaitu Rumoh Khalut. Ketika kelua beliau melihat Bintang jatuh dari Langit. Namun dimana arah bintang jatuh itu masih menjadi misteri. Atau bintang yang jatuh itu merupakan komet atau gugus bintang yang jatuh di atmosfir.

Nah, Dengan jatuhnya bintang pada saat itu kemudian Teungku Syiek Di pasi memberikan nama sebuah sungai yang pernah dibangunnya dengan nama Lueng Bintang. Lueng Bintang saat ini lebih berharga dari emas dan permata sekalipun bagi masyarakat Pidie pada umumnya.

Teungku Syiek Dipasi merupakan tokoh ulama yang sangat mempengaruhi pembangunan Pidie pada sektor pertanian.Distribusi yang diberikannya kepada anak cucunya sangat berharga dibandingkan emas dan permata.



Anda Perlu Uang??????


Salam dari Hendra Darmawan Waido (HDW)

Mohon perbaikan pada penulisan ini.....

Wednesday, August 23, 2017

ADA APA DENGAN RAJA PIDIE ???

Penulis: Hendra Darmawan Waido (HDW)

Tulisan ini berawal dari asumsi sejarawan Aceh yang bernama Dr M Adli Abdullah yang pernah menyaksikan kondisi makam raja pidie yang terakhir. Seperti yang dilansir oleh Serambi Indonesia pada halaman Nanggroe yang berjudul Sultan Terakhir Aceh Ini Meninggal Menyedihkan, Ditangkap dan Dibuang ke Luar Aceh yang menyatakan bahwa raja pidie terakhir adalah Sultan Muhammad Daud Syah.

Dari analisis saya beliau memiliki istri dan anak yang berumur 6 tahun bertepatan pada tanggal 26 November 1902. Nama istrinya adalah Teungku Putroe Gambo Gadeng bin Tuanku Abdul Majid, dan anaknya bernama Tuanku Raja Ibrahim yang kemudian isteri dan anaknya disandera oleh Belanda di Gampong Glumpang Payong Pidie. Tujuan penyanderaan ini agar Sultan Muhammad Daud Syah menyerahkan diri kepada Belanda.

Sultan Muhammad Daud Syah ditangkap selama 16 tahun dan kemudian dipindahkan ke Jatinegara, Jakarta pada tahun 1918. Beliau wafat pada tanggal 6 Februari 1939. Di pusaranya tertulis, “Toeankoe Sultan Muhammad Daoed ibnal Marhoem Toeankoe Zainal Abidin Alaiddin Syah, wafat hari Senen 6 Februari 1939.” Hal ini menandakan bahwa Ayah Sultan Muahammad Daud Syah adalah Sultan Zainal Abidin alaiddin syah. 

Wafatnya Sultan Muhammad Daud Syah memberikan asumsi bahwa anak beliau yang bernama tuanku Raja Ibrahim kurang lebih sudah berumur sekitar 40 tahun.

Nah untuk itu, berarti ketika Tuanku Raja Ibrahim berumur 47 Tahun, Indonesia suda memproklamirkan kemerdekaannya. Berarti secara logika Tuanku Raja Ibrahim masih hidup ketika Indonesia terbebas dari penjajahan belanda.

Untuk itu jejak Sultan Tuanku Raja Ibrahim yang merupakan anak dari Sultan Muhammad Daud Syah harus mendapat perhatian yang serius. Karena Sultan Raja Ibrahim atau anak-anaknya atau cucu-cucunya masih bisa ditemukan.

Dalam hal ini dukungan serta asumsi Pemerintah Kabupaten Pidie sangat dibutuhkan. Sejarah merupakan spion untuk melihat dari belakang untuk melancarkan langkah masa depan Pidie yang lebih baik.

wallahu a'lam bisshawab, hanya Allah yang Maha Mengetahui,,,,,,,,

Tuesday, August 22, 2017

ULAMA PIDIE YANG DITAKUTI BELANDA

Penulis: Hendra Darmawan Waido (HDW)


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Kisah yang akan diceritakan berikut merupakan kisah nyata dari perjalanan seorang hamba Allah yang dikenal dengan nama Tengku Chik di Pasi (bukan nama asli), kisah nyata ini diceritakan secara turun temurun oleh masyrakat Pidie, khususnya masyarakat yang berdomisili di kawasan Simpang Tiga dan Kembang Tanjong, kisah ini menggambarkan bagaimana perjalanan seorang hamba Allah yang mendapat karamah (keuramat) dari Allah SWT. Bukti sejarah dari perjalanan hidup beliau ini masih dapat dijumpai sampai sekarang di beberapa gampong dalam kecamatan Simpang Tiga dan Kembang Tanjung. Nama asli beliau adalah Abdussalam bin Burhanuddin, beliau berdomisili di Gampong Waidoe kecamatan Peukan Baro Kabupaten Pidie. Kendati beliau berdomisili di Gampong Waidoe perjalanan hidup beliau terjadi di beberapa tempat terutama di kawasan kecamatan Simpang Tiga dan Kembang Tanjong.

Pada suatu hari ada beberapa orang tamu datang ke rumah Tengku Chik untuk bertamu, ini merupakan tradisi yang dibangun masyarakat Aceh untuk menghormati seorang ulama, dan ini sudah menjadi tradisi dalam masyarakat. Tengku Chik adalah seorang ulama yang hidupnya sederhana, kebetulan pada hari itu ketika tamu-tamu datang ke rumah tidak ada lauk yang akan di masak untuk makan siang para tamu, isteri Tengku Chik mengomel dan mengeluh. Melihat kondisi tersebut Tengku Chik mohon izin sebentar kepada tamunya itu, beliau segera ke belakang rumah mengambil jala serta mengajak seoarang anak kecil yang sedang berada di depan rumahnya. Melihat keadaan agak lengang, beliau segera membuka jala dan melemparnya persis di halaman rumahnya, setelah ditarik, Subahanallah yang didapat adalah ikan bandeng yang lumayan besar-besar, beliau mengulangi melempar jala di tempat itu juga, hasilnya juga sama, anak kecil tadi merasa heran dengan tingkah dari Tengku Chik. Setelah merasa cukup beliau menyuruh anak tersebut memberikan ikan yang didapat tadi kepada isterinya, terselesaikanla
h keluhan isterinya tersebut berkat keuramat yang dimiliki beliau.

Tengku Chik hidup di tengah masyarakat Waido yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, demikian juga dengan Tengku Chik. Sudah menjadi tradisi masa lalu bahwa membajak sawah (meugoe) dilakukan dengan lembu atau kerbau, begitu juga meugoe yang dilakukan oleh Tengku Chik Pasi. Setiap hari beliau pergi ke sawah selalu terlambat dari petani yang lain, bahkan sudah menjadi kebiasaan beliau, ketika orang bertanya “Mengapa tengku selalu terlambat ke sawah?” beliau menjawab “Lembu saya terlambat bangun tidur, saya tidak mau mengganggu tidurnya” demikian jawaban Tengku Chik. Akibatnya beliau tertinggal dari petani, lain yang sudah siap sawahnya untuk ditanami padi sedangkan beliau tidak. Kendati demikian sawah yang duluan padinya ditanami adalah sawah Tengku Chik, hasil padi beliau pun lebih melimpah dibandingkan dengan petani lainnya.

Pada suatu hari ketika beliau pulang menuju Waido, beliau singgah sebentar di kawasan gampong Blang kecamatan Simpang Tiga, karena merasa kehausan beliau meminta seteguk air tebu yang sedang diperas oleh salah seorang penduduk gampong Blang tersebut, persisnya di keude gampong Blang sekarang. Air tebu yang diperas warga tadi akan dimasak menjadi manisan, air tebu diperas dengan menggunakan weng teubee (alat peras) yang ditarik oleh kerbau. Tengku Chik menghampiri warga tersebut dan meminta sedikit air tebu yang diperasnya, orang tadi tidak mau memberikannya dengan alasan air tebunya mau dimasak untuk manisan dan bukan untuk diminum, mendengar jawaban tersebut Tengku Chik langsung bergegas pulang menuju Waido. Dalam perjalanan pulang beliau tanpa sengaja menoleh ke belakang, terlihat weng tubee tadi mengikutinya tanpa ditarik oleh kerbau, sungguh aneh! Melihat hal itu beliau berhenti dan berujar kepada weng teubee tersebut “alah hai meutuah, bek lee ka seutoet lon” (Wahai meutuah[1] jangan engkau ikuti saya lagi). Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, weng teubee tadi berhenti dan Tengku Chik pun meneruskan perjalanannya pulang ke Waido. Weng teubee sekarang bisa dijumpai di kawasan antara gampong Blang dengan Waido. (penulis tidak tahu persis nama gampong tersebut).

Diceritakan pada suatu hari beliau datang ke Teungu kecamatan Simpang Tiga, ini sering dilakukannya, bahkan ke gampong-gampong lainnya, tidak hanya Teungue. Ketika tiba di Teungue, diceritakan bahwa beliau beristirahat di bawah pohon kelapa, tiba-tiba tupai yang ada di pohon kelapa tersebut kencing dan jatuh menimpa kain Tengku Chik, melihat kainnya tertimpa kencing tupai, beliau merasa kesal dan berkata yang intinya agar Teungu aman dari serangan tupai. Sampai sekarang pun tidak ada seekor tupai pun yang bertahan hidup di daerah Tengue. Mengenai hal ini penulis mempersilahkan kita semua untuk menguji kebenarannya, bahkan sudah banyak orang yang datang sengaja membawa tupai ke Teungue, namun yang terjadi tupai tidak dapat bertahan hidup lama dan mati.

Karena ketenaran namanya serta keuramat yang terbukti dimiliknya, semua warga gampong dalam kecamatan Simpang Tiga menginginkan agar ketika meninggal Tengku Chik dikebumikan di gampong mereka, akhirnya Tengku Chik memutuskan jalan tengah agar tidak terjadi perdebatan mengenai lokasi kuburannya, jalan yang diambil Tengku Chik adalah dengan melempar tongkat yang dimilikinya, dimana nanti tongkatnya jatuh disitulah kuburannya. Tengku Chik melempar tongkat dari Waido dan jatuh di Kawasan Ie Leubee kecamatan Kembang Tanjong, jarak dari Waido ke Ie Leubee kira-kira 12 km, Subhanallah! Sungguh aneh, tetapi itulah yang terjadi, dengan demikian maka kuburan beliau adalah di Ie Leubee kecamatan Kembang Tanjong. 

 Beberapa waktu kemudian (tidak disebutkan dengan jelas tahunnya) beliau pun meninggal, sesuai dengan wasiat beliau, beliau dikebumikan di Ie Leubee. Seluruh warga mengantar jenazah beliau dari Waido menuju Ie Lelubee, untuk mempersingkat perjalanan ditempuhlah dengan melewati persawahan yang pada saat itu mulai dikerjakan petani untuk ditanami padi. Ada seorang petani yang melarang jenazah Tengku Chik diusung melewari sawahnya, dengan alasan ateung (pematang sawah) yang dibuatnya akan rusak terinjak pengusung jenazah, karena dilarang oleh petani tersebut jenazah Tengku Chik diusung tidak melewati sawah tersebut dan mengambil arah lain. Sampai sekarang pun ateung sawah tersebut selalu rusak walaupun setiap tahun diperbaiki. Sawah tersebut terletak di kawasan gampong Blang kecamatan Simpang Tiga. Dikisahkan pula bahwa para pengusung jenazah Tengku Chik mengaku bagaikan mengusung kapas dan jarak yang ditempuh sedemikian jauh terasa dekat. Sampai sekarang kuburan Tengku Chik Pasi yang terletak di Ie Leubee sering diziarahi warga, baik dari kembang Tanjong, Simpang Tiga serta daerah-derah lain.

ADA APA DENGAN PIDIE?



Ditulis oleh: HENDRA DARMAWAN WAIDO
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Ar-Raniry

Pidie merupakan satu kabupaten yang ada di provinsi Aceh. Kabupaten Pidie sangat berbeda dengan Kabupaten-kabupaten lain yang ada di Provinsi Aceh. Kenapa demikian???

Boleh dikatakan pidie memiliki keunikan dan tersirat makna yang tersembunyi bila kita melihat secara seksama dan dengan pikiran yang jernih serta berpikir secara positif. Kabupaten Pidie memiliki keunikan tersendiri dari bentuk wilayah dan nama wilayahnya.

Yang pertama
Penulis ingin menguraikan sedikit tentang penamaan Kabupaten Pidie. Yukkk Kita lihat Kabupaten Lain Dulu!!!!
Kota Madya Banda Aceh ibukotanya Banda Aceh, Jantho berada di Aceh Besar, Bireun adalah Kabupaten Aceh Utara (dulu), Takengon dinamakan dengan Aceh Tengah,, dan banyak kota-kota atau Kabupaten-kabupaten lain yang ada di Provinsi Aceh memiliki penamaan Acehnya atau disematkan nama Aceh nya. Akan tetapi Sigli berada di Kabupaten Pidie, Beureunun di Kabupaten Pidie.  Yang menjadi pertanyaannya adalah Kenapa Kabupaten Pidie tidak dinamakan dengan Kabupaten Aceh Pidie atau semacam yang serupa dengan nama Kabupaten lain yang ada di Aceh yang diawali dengan Nama Aceh….
Penasaran Bukan? Pasti Jawabannya oh ya ya,, Kenapa Ya???
Tuh kan ketahuan jawaban dari kata hati kawan-kawan..

Yang Kedua

Yuk kita melihat Hari Jadi Kabupaten Pidie. Selama saya hidup di Gampong Waido Kecamatan Peukan Baro yang merupakan salah satu gampong yang berada di Kabupaten Pidie. Pidie belum pernah mengadakan acara Hari Jadi Pidie atau HUT Pidie ke 100 kek atau ke 200 kek atau ke berapa lah?? Nah, anda juga akan bertanya dalam hati kecil anda,, oh ya ya,, kenapa sih gak ada hari jadi atau HUT Pidie??

Oleh Sebab itu anda akan bertanya dalam hati anda, Kenapa Banda Aceh ada HUT nya??, Kenapa Bireun ada HUT nya??, Kenapa kota Meulaboh ada HUT nya?? Kenapa Jantho ada Hari Jadinya?? atau Kabupaten lainnya. Mungkin tanda Tanya akan tampil dua kali atau lebih di dalam lubuk hati anda seperti yang Penulis ketik ini. Ya Kan?? Jawabnya pasti iyalah.. masa sih iya dong!!!!
Kenapa Demikian????

Yang ketiga
Kenapa di Kabupaten lain ada yang namanya Gampong Pidie?? Ada yang namanya Blang Pidie?? Dan nama-nama lain yang ada kaitannya dengan Pidie??? Penasaran bukan??? Penulis juga penasaran nih????
Ada apa dengan Pidie?????

Yang Keempat
Kenapa orang Pidie suka piknik atau merantau???? Nah, penasaran juga ya??
Sepanjang perjalanan Penulis, orang Pidie sangat banyak sekali yang merantau ke Kabupaten lain, provinsi Lain, bahkan ke Negara-negara lain yang ada di dunia. Mayoritas anak Pidie yang merantau ke tempat lain meraih prestasi gemilang yang dinamakan dengan sukses. wah,, ada apa dengan Pidie?

Yang kelima
Bahasa Aceh yang dibakukan adalah bahasa Pidie. Kenapa demikian????? Timbul tanda Tanya lagi bukan????
Karena bahasa Pidie memiliki kesempurnaan baik dalam melafalkan suku kata atau konsonan. Bahasa Pidie merupakan bahasa yang paling sempurna baik dari segi kata-katanya atau cara melafazkannya.

Yang Keenam
Masa lampau, kebanyakan orang pidie menjadi raja atau pemimpin di daerah lain. Kenapa demikian karena Anak Pidie mampu bersaing serta punya kualitas intelektual yang tinggi.Oleh sebab itu Penulis berasumsi bahwa Pidie merupakan pemegang batu estafet dalam menyebarluaskan wilayah di Aceh. Dan saya berpendapat bahwa orang Pidie yang membangun sebagian wilayah-wilayah kabupaten yang ada di Aceh pada masa lampau.

Hal ini berkaitan dengan Kabupaten Aceh selatan yang telah dibuktikan oleh Koran Serambi Indonesia yang memberitakan tentang Pemilik Bendera Peninggalan Aceh Darussalam di Trumon Pernah Menetap di Pidie.  pada berita tersebut menjelaskan bahwa:

T. Raja Aceh sebagai pewaris kerajaan Trumon, pemilik salah satu bendera pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, di Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, ternyata nenek moyangnya pernah menetap di Batee, Grong-grong, Kabupaten Pidie. Karena itulah yang menyebabkan banyak orang berasumsi Tengku Djakfar berasal dari Pidie.

Diakuinya, kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Aceh Selatan Raya (Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Singkil) punya kaitannya dengan Pidie.
Bahkan ada kerajaan yang rajanya memang berasal dari Pidie, seperti Raja Kuala Batu, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya, Teuku Cik Karim asal Pidie.(Sumber Serambi Indonesia pada tanggal 22/8/2017)
  
Maka oleh sebab itu penulis berasumsi bahwa Pidie merupakan nenek moyangnya Aceh Selatan Raya yang meliputi Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil. Pidie memiliki sejarah yang sangat penting dalam peradaban Aceh ini. Oleh Sebab itu saya pernah mendengar kata yang sangat bijaksana yang dikatakan oleh salah seorang mantan Bupati Pidie yang mengatakan bahwa: Pidie yang satu menuju Aceh yang satu.

Oleh sebab itu Rakyat Aceh memiliki sifat kasih sayang yang masih melekat erat dengan adat dan istiadat yang sangat indah. Karena masyarakat aceh terlahir dari darah yang sama yang memiliki tali persaudaraan yang tinggi dan kuat.

Pidie merupakan satu Kabupaten yang sangat unik untuk ditelusuri oleh pakar penelitian. Hal ini dilakukan untuk mencari kebenaran yang ada di dalam wilayah tersebut. Bagaimana sejarah Pidie yang sebenarnya. Sejarah Pidie sangat jarang diteliti oleh para peneliti, hal ini berpengaruh pada tidak adanya ilmu pengetahuan tentang sejarah Kabupaten Pidie yang sebenarnya. Maka oleh sebab itu penulis mengharapkan kepada pemerintah Aceh dan Pemda Pidie untuk lebih jeli meneliti sejarah Pidie.
Hanya Wallahu A'lam bissawab yang dapat penulis ucapkan. Muhon Sumbangan Pendapat Perbaikan pada penulisan artikel ini agar artikel ini menjadi ilmu pengetahuan yang berguna bagi Pidie khususnya dan bagi masyarakat Aceh pada umumnya.

Baca Juga
Terkuaknya Misteri Tangkuban Perahu di Aceh
Ulama Pidie yang ditakuti Belanda
Ada apa dengan Raja Pidie 

Ini hanya sebuah asumsi yang perlu dikaji lebih dalam lagi....
yuukk kita sama-sama menggali sejarah Pidie yang lebih dalam lagi....